Climate Change itu Membingungkan

climate change

Kami paham, betapa susahnya mempelajari segala sesuatu tentang keadaan bumi kita. Oleh karena itu, melalui artikel ini kami akan memaparkan 17 pertanyaan yang paling sering ditanyakan beserta jawaban yang paling to-the-point.

1.Climate Change? Global Warming? Mana yang benar?

Keduanya benar, namun memiliki pengertian yang berbeda.

Global warming adalah salah satu bentuk dari climate change. Namun Climate Change memiliki cakupan yang lebih luas lagi, bukan hanya berbicara tentang naiknya temperatur di bumi, namun juga pada perubahan pola hujan, kekeringan di sungai tertentu dan badai angin yang lebih ekstrim.

2. Seberapa parah kenaikan temperatur bumi?

0.8 derajat Celcius.

Sejak 1880, bumi telah mengalami kenaikan temperatur sebesar 0.8 derajat celcius per 2017. Dimana 0.6 derajat diantaranya terjadi sejak 1975.

Sebagai perbandingan, penurunan suhu sebesar 5 derajat Celcius sudah cukup untuk membuat bumi masuk ke zaman peradaban es. Jika bumi mengalami kenaikan suhu hingga 5 derajat Celcius, maka kapasitas bumi untuk mendukung peradaban manusia akan jauh berkurang.

3. Apa itu efek rumah kaca? Dan apa hubungannya dengan Global Warming?

Pada abad 19, ilmuwan menemukan kalau ada gas yang dapat menahan dan menyimpan energi panas, yaitu karbon dioksida.

Gas ini sangat penting karena tanpanya, bumi akan membeku. Namun laju pertumbuhan industri memacu produksi gas karbon lebih dari yang dibutuhkan bumi untuk mempertahankan suhu stabilnya, dan akibatnya berakibat pada semakin panasnya bumi.

Nah, adanya gas karbon dioksida dan gas lainnya inilah yang menjadi penyebab efek rumah kaca. Rumah kaca sendiri adalah rumah buatan (dari kaca atau plastik) yang bertujuan untuk memperangkap panas dari sinar matahari dan mengatur suhu dalam ruangan sesuai dengan kebutuhan untuk tujuan pengembangan tanaman budidaya.

4. Emang pasti kalau efek rumah kaca disebabkan oleh manusia?

Berdasarkan studi yang ada dengan menggunakan radioaktif untuk memisahkan emisi gas karbon natural dengan emisi gas karbon industri menunjukkan bahwa tambahan gas berasal dari aktivitas manusia.

Lagipula, meski temperatur bumi juga naik dan turun sebelumnya, namun proses tersebut memakan waktu ribuan tahun, bukan puluhan tahun seperti yang sekarang sedang terjadi.

5. Apakah ada faktor alami lain yang mungkin bisa menyebabkan pemanasan?

Secara teori, hal itu bisa saja terjadi.

Misalnya jika sinar dari matahari mengalami peningkatan radiasi, maka tentu bumi pasti akan semakin panas dengan sendirinya.

Namun sekali lagi, ilmuwan sudah mencoba memeriksa faktor yang menyebabkan perubahan pada suhu sebuah planet dan kesimpulannya, tidak ada perubahan berarti. Sebagai perbandingan, bumi mengalami kenaikan temperatur yang jauh lebih tinggi (berdasarkan skala waktu) dibanding planet lainnya.

6. Kenapa ada orang yang tidak percaya dengan isu pemanasan global?

Sebagian besar karena ideologi.

Mengakui adanya global warming berarti mengakui pula bahwa harus ada solusi yang diambil.

Tidak semua orang tertarik untuk merubah cara hidup mereka dan lebih memilih untuk bertahan di status-quo.

7. Apakah kita sedang dalam masalah?

Ya, masalah besar.

Menurut para ilmuwan, dalam 25 sampai 30 tahun ke depan, iklim bumi akan menjadi semakin hangat disertai dengan cuaca yang semakin ekstrim. Jika kamu sempat melihat video tentang topan Hagibis yang melanda Jepang Oktober 2019 lalu dimana langit malam bisa berwarna ungu, ya cuaca seperti itu akan semakin umum di masa depan. Selain itu, terumbu karang dan habitat sensitif lainnya juga akan semakin berkurang.

Dalam jangka panjang, jika emisi karbon kita dibiarkan saja seperti sekarang, maka ada kemungkinan perubahan iklim yang ekstrim dapat menyebabkan masalah dalam skala internasional, seperti memicu adanya pengungsian masal, atau kepunahan masal terhadap banyak spesies flora dan fauna. Pemanasan global juga menyebabkan cairnya es di kutub yang berakibat pada naiknya permukaan air laut. Efeknya sudah mulai terlihat dari sekarang.

Singkat kata, kita sedang dalam masalah besar.

8. Apakah saya perlu khawatir terhadap efek perubahan iklim pada diri saya sendiri?

Pertanyaanya, apakah kamu cukup kaya untuk melindungi anakmu dari dampak perubahan iklim.

Realitanya adalah, kita sekarang sudah merasakan efek dari perubahan iklim. Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), 7 dari 10 bencana yang melanda Indonesia disebabkan oleh perubahan iklim. Meski belum termasuk kategori gelombang panas, namun BMKG mengakui bahwa Indonesia telah mengalami peningkatan temperatur di 2019. Di bumi bagian lain, terjadi pengungsian masal akibat perubahan iklim. Bahkan menurut sebuah riset, ada lebih dari 24 juta orang yang telah mengungsi ke Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Filipina selama 2009-2014. Jadi seandainya Indonesia tidak mengalami dampak dari perubahan iklim sekalipun, namun kita tetap akan mengalami dampak secara sosial politik. Pendek kata, mau tidak mau, kita pasti akan terpengaruh oleh perubahan iklim.

9. Jika es di kutub mencair, seberapa tinggi kenaikan permukaan air laut?

Laut kita mengalami kenaikan kurang lebih 1 kaki atau 30cm setiap abadnya yang mengakibatkan pemerintah dan pemilik properti harus mengucurkan anggaran yang sangat masif untuk mencegah erosi air laut. Bagi negara sendiripun, abrasi adalah masalah besar yang bisa mengancam kedaulatan negara (abrasi dapat menyebabkan berkurangnya luas suatu pulau). Namun menurut ilmuwan, kenaikan air laut seperti itu masih bisa dihadapi.

Permasalahannya adalah jika kecepatan kenaikan air laut mengalami peningkatan, maka kita akan mengalami ancaman yang sangat besar. Beberapa ilmuwan memprediksi peningkatan air laut hingga 1 kaki per 10 tahun. Tetapi intinya, jika kita tidak membuat perubahan dan seluruh es di kutub mencair, maka air laut akan mengalami peningkatan sekitar 80-100 kaki atau 24 sampai 30 meter dari permukaan air laut sekarang. Kecuali rumahmu berada di dataran tinggi lebih dari 50 motor, kamu perlu was-was.

10. Apakah cuaca ekstrim yang menimpa banyak negara disebabkan oleh perubahan iklim?

Beberapa diantaranya.

Ilmuwan telah mempublikasikan bukti yang sangat konklusif kalau perubahan iklim menyebabkan gelombang panas menjadi semakin sering dan semakin ekstrim. Selain itu, perubahan iklim juga dikaitkan dengan hujan badai yang semakin berat, banjir di daerah sekitar pantai hingga kekeringan di sebagian daerah Timur Tengah.

Namun dalam kejadian seperti angin topan, hubungan antaranya dengan global warming masih sebatas dugaan saja dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun para ilmuwan senantiasa berusaha untuk membuat penemuan baru yang berhubungan dengan iklim.

11. Apakah ada solusi yang realistis?

Ada, namun perubahan berjalan sangat lambat.

Kita sudah terlalu lama mengeksploitasi alam dan saat ini, risikonya sudah tergolong sangat berat. Namun kuncinya adalah mengurangi penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara. Bila kita dapat mengurangi emisi karbon hingga nol, maka pemanasan global dapat ditangani. Emisi karbon nol bukan berarti tidak ada emisi karbon sama sekali. Ada aktivitas seperti pembakaran batu bara yang menyebabkan emisi karbon dan sebaliknya penanaman pohon yang mengurangi karbon. Namun saat ini, aktivitas yang menghasilkan karbon jauh lebih tinggi dibandingkan aktivitas yang mengurangi karbon.

Kabar baiknya, mulai banyak negara yang mengurangi ketergantungan mereka terhadap bahan bakar fossil. China contohnya menjadi salah satu negara yang paling kencang dalam mendorong penggunaan energi terbarukan. Jika banyak negara lain yang mengikuti kebijakan serupa, hal ini bisa saja terjadi.

12. Apa itu Paris Agremeent?

Paris Agreement adalah perjanjian seluruh negara di dunia untuk berusaha mengurangi emisi karbon. Namun perjanjian tersebut sayangnya hanya berdasarkan kerelaan saja dan tidak ada sifat yang memaksa. Meski baik, namun perjanjian ini tidak cukup kuat untuk mengurangi risiko karbon. Apalagi pada 2017, di kepemimpinan presiden Trump, Amerika Serikat justru mundur dari keanggotaan Paris Agremeent ini.

13. Apakah energi terbarukan membantu atau justru melukai perekonomian?

Sumber energi dengan emisi karbon terendah adalah turbin angin, sel surya, bendungan hidroelektrik, dan nuklir. Pembangkit listrik yang menggunakan gas alam juga menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan batu bara. Dalam jangka pendek, energi terbarukan memakan biaya yang lebih tinggi, namun dalam jangka panjang, harganya akan semakin turun. Apalagi setelah fasilitasnya dipasang, sumber energi seperti matahari, angin dan air itu kan sebenarnya gratis.

Tentunya perubahan ke energi terbarukan juga berpotensi merugikan beberapa pihak, contohnya perusahaan batu bara. Namun energi terbarukan adalah industri baru yang sangat menjanjikan dan juga mempekerjakan banyak orang dan ilmuwan.

Selain itu, energi terbarukan juga mengurangi dampak negatif seperti polusi udara yang berakibat pada kesehatan. Singkat kata, energi terbarukan itu baik bagi ekonomi dalam jangka panjang, pun bagi negara seperti Indonesia yang bergantung atas komoditas.

14. Saya pernah dengan tentang batu bara ramah lingkungan (clean coal), apa itu?

Secara esensi, clean coal adalah sebuah proses dimana asap, abu dan polusi dari sisa pembakaran batu bara yang ditangkap dan dikumpulkan untuk kemudian ditimbun didalam bawah tanah. Secara teori, dengan proses ini, maka dapat meminimalkan emisi karbon rumah kaca dalam atmosfir kita. Namun diluar faktor ekonomi, masih belum ada penelitian yang konklusif mengenai konsekuensinya terhadap lingkungan. Clean coal lebih baik dari batu bara biasa, namun tidak semua perusahaan akan mengadopsinya karena faktor biaya dan kita tidak tahu seberapa besar dampak positifnya.

15. Bagaimana dengan mobil elektrik?

Secara keseluruhan, porsi mobil listrik dibanding mobil konvensional masih sangat kecil. Namun tak dapat dipungkiri kalau tren mobil listrik berkembang cukup pesat di luar negri.

Dibandingkan dengan mobil konvensional, mobil listrik jauh lebih efisien. Jadi seandainya sumber listrik yang digunakan pun berasal dari batu bara, mobil listrik jauh lebih baik dibanding mobil konvensional. Apalagi dengan lebih banyaknya produksi fasilitas energi terbarukan, bukan tidak mungkin seluruh industri otomotif bisa terlepas dari ketergantungan atas bahan bakar fossil.

Sayangnya di Indonesia, mobil listrik masih tergolong eksotis. Salah satunya karena memerlukan infrastruktur yang sangat besar. Namun pemerintah sendiri sangat tertarik berinvestasi di industri ini melalui dengan proyek tambang Nikel di Morowali (Nikel adalah bahan utama untuk batre yang diperlukan dalam mobil listrik).

16. Apa benar kalau daging itu tidak ramah lingkungan?

Daging sendiri tidak menyebabkan masalah, namun sapi (atau hewan mamalia lainnya) yang diternakkan lah yang menjadi sumber masalahnya. Hewan seperti sapi kerap bersendawa dan sendawa tersebut mengandung komposisi gas metana yang tinggi. Dalam jumlah yang sama, gas metana 25 kali lebih buruk dibanding gas karbon dioksida. Tidak berhenti sampai situ, sapi juga membutuhkan makanan dan untuk menumbuhkan makanan tersebut, dibutuhkan pupuk, dan pupuk tersebut juga mengeluarkan gas metana.

Sebaliknya hasil hewani lain seperti ayam, beserta produk turunannya, bebek dan daging (maaf) babi memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah. Menurut penelitian berdasarkan rata-rata konsumsi daging per tahun, seseorang yang mengganti konsumsi daging dan kambing seluruhnya selama setahun dengan ayam, maka hasilnya setara dengan mengurangi pembakaran 263kg batu bara.

17. Climate Change itu membingungkan, apa yang bisa saya lakukan?

Menurut para ahli, masalah perubahan iklim membutuhkan perubahan bersama dalam skala besar. Namun bukan berarti kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Mengubah gaya hidupmu menjadi lebih eco-friendly mungkin terdengar sepele, namun kebiasaan itu dapat menginspirasi orang disekitarmu untuk mengikuti hal serupa, dan ini akan menjadi rantai reaksi untuk perubahan yang lebih besar.

Selain itu, mendukung brand ramah lingkungan (dibanding brand yang tidak) adalah salah satu jalan. Ketika kamu mendukung brand ramah lingkungan, kamu secara tidak langsung mengatakan pada brand tidak ramah lingkungan bahwa “saya tidak mau produkmu, kecuali kamu mengubah kebijakanmu”. Hal ini akan mendorong lebih banyak brand lain untuk mengadopsi praktik yang lebih ramah lingkungan. Beberapa brand seperti Everlane, Patagonia, CDE dan Veja adalah beberapa contoh brand dengan misis positif untuk lingkungan.

 

One reply on “Climate Change itu Membingungkan

  • Muhammad Mutawallie

    Super sekali artikel ini. Saya merasa bahwa saya berada dijalan yang benar ketika akhir-akhir ini sedang giat menjalankan kampanye melalui penelitian efek gas rumah kaca kemudian dihubungkan dengan brand lokal yang peduli dengan lingkungan. Saya akan dengan senang hati untuk menyebarkan “climate change awareness” kepada orang lain melalui akun ini. Terima kasih

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *