Kulit : Konsekuensi Dari Sebuah Kemewahan

Bagi Muhammad Iqbal, warga yang bermukim di sekitar Sungai Kali Gandong, hari Senin malam adalah hari yang paling ditakuti. Itu adalah hari dimana, pabrik kulit membuang limbah yang telah terkumpul selama seminggu ke dalam sungai. “Terutama Senin malam itu baunya luar biasa, saya yang biasa mencium bau limbah saja hari itu benar-benar tidak kuat. Rasanya itu sesak. Sampai ada salah satu warga yang muntah-muntah karena bau itu”, cetus pria yang juga menjadi ketua RW tersebut. Fenomena ini bukanlah hal baru bagi warga setempat. Hal seperti ini sudah berjalan puluhan tahun di Magetan yang merupakan salah satu kota penghasil kulit terbesar di Indonesia.

Selama 2 tahun terakhir, Iqbal beserta warga sekitar sudah melakukan berbagai upaya seperti protes, mediasi atau negosiasi, namun baik perwakilan perusahaan maupun pemkab Magetan tidak pernah benar-benar menanggapi permasalahn tersebut secara serius. Entah kapan mereka bisa dapat memperoleh hidup yang layak dan aman, namun yang pasti mereka tidaklah sendiri. Ini hanyalah 1 kasus diantara banyak lain masyarakat serupa yang menjadi korban dari pencemaran industri kulit.

Sebuah Kenyataan Pahit

People over-produce pollution because they are not paying for the cost of dealing with it.

Quote dalam buku “23 Things they don’t tell you about capitalism” diatas sangatlah relevan dengan cerita warga desa Sungai Kali Gandong. Seringkali kita mengentengkan dampak atau biaya dari sebuah keputusan karena kita tidak harus menanggung konsekuensinya sendiri, atau setidaknya tidak untuk saat ini. Namun akankah pandangan kita berubah bila kita mengetahui biaya sebenarnya dari sebuah keputusan yang kita ambil tersebut? Kita tidak hanya berbicara tentang biaya dalam konotasi finansial, namun biaya yang lebih luas lagi, yaitu sosial dan lingkungan. Dalam esai ini, CDE akan membagikan investigasi kami terhadap apa yang kami sebut sebagai sebuah kenyataan pahit di balik indahnya produk kulit.

Berbicara tentang lingkungan, kita mungkin sudah sering mendengar beberapa industri yang kerap mengisi daftar perusak lingkungan. Contohnya industri minyak bumi yang merusak biota laut, atau industri sawit yang menghancurkan biodiversitas hutan serta industri batu bara yang disebut bertanggung jawab terhadap global warming. Namun tak banyak yang tahu bahwa industri kulit atau leather goods sebenarnya juga membawa dampak negatif yang sangat besar terhadap lingkungan dan sosial.

Bahkan menurut penelitian, dibandingkan dengan serat lainnya termasuk kulit sintetik, kulit sapi adalah bahan yang paling mencemari lingkungan. Tidak seperti metode penyamakan kulit yang digunakan oleh peradaban kuno yang serba organik, industri penyamakan kulit modern yang mengutamakan efisiensi produksi justru menghasilkan limbah kimia yang tidak hanya membunuh lingkungan, namun juga para pekerja dan komunitas masyarakat disekitarnya.

Menurut APLF (Asia Pacific Leather Fair) sendiri, besar industri kulit dunia mencapai $95.4 miliar pada tahun 2018 atau kira-kira setara dengan Rp 1.335 Triliun. Sebagai perbandingan, konsumsi batu bara global pada tahun 2017 adalah sebesar $340 miliar atau Rp 4.760 triliun. Meski terlihat kecil, namun perlu kita sadari bahwa industri kulit ternyata berukuran seperempat dari sebuah industri yang dianggap paling mencemari lingkungan. Ini bukan hal sepele. Kenyataan bahwa industri kulit tidak ramah lingkungan adalah fenomena nyata yang tidak bisa dipandang sebelah mata lagi.

Ironisnya lagi (tanpa bermaksud menjustifikasi), penggunaan batu bara sangatlah berkontribusi besar dalam mendukung peradaban manusia sebagai sumber energi yang efektif dan terjangkau. Sementara itu, kulit adalah sebuah produk yang kita bisa hidup tanpanya. Bahkan dalam skala prioritas kebutuhan manusia, produk kulit bukanlah produk sekunder, namun merupakan kebutuhan tersier. Tentunya hal ini bukanlah keputusan yang bijaksana. Ini adalah permasalahan yang nyata, terutama bagi kita warga Indonesia yang menjadi salah satu penghasil kulit terbesar di dunia.

Pada tahun 1950-an, industri penyamakan kulit masihlah terkonsentrasi di negara barat. Seiring dengan globalisasi dan bertumbuhnya kepedulian warga barat terhadap lingkungan, produksi kulit mulai berpindah dari Eropa dan Amerika Serikat ke China dan India. Namun pesatnya pertumbuhan kedua negara menyebabkan adanya kenaikan upah kerja. Untuk menjawab permasalahan tersebut, banyak produsen yang memindahkan produksi kulit ke Asia Tenggara. Dengan upah kerja yang rendah, negara seperti Indonesia, Kamboja, dan Vietnam menjadi destinasi utama penghasil kulit dengan biaya rendah untuk menyuplai kebutuhan negara maju.

Hasil limbah padat di PT. Garut Makmur Perkasa

Di Indonesia sendiri, industri penyamakan kulit dapat ditemui di Garut (Jawa Barat), Magetan (Jawa Timur) dan Malang (Jawa Timur) dan berbagai daerah lainnya. Di Garut contohnya, berdasarkan pengamatan oleh Kemenperin (Kementerian Perindustrian Republik Indonesia), industri penyamakan ditetapkan sebagai industri dengan pencemaran lingkungan tinggi. Bahkan pada tahun 2018, sempat terjadi protes besar-besaran akibat pencemaran limbah dari industri kulit di Garut. Hal ini menunjukkan bahwa industri kulit sudah membawa permasalahan yang nyata dalam negara kita. Tak bisa lagi kita memandang sebelah mata pada sebuah fenomena yang mengancam kelangsungan hidup banyak orang serta lingkungan yang sehat untuk generasi masa depan.

Pertanyaannya, peran apa yang bisa kita ambil?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita membahas lebih dalam mengenai industri kulit terlebih dahulu. Agar tidak terkesan berat sebelah, perlu diketahui bahwa tidak semua produk kulit itu buruk.

Asal Mula Kulit

Pada dasarnya, setiap daerah memiliki jenis kulit yang berbeda bergantung pada keragaman fauna yang banyak tersedia di negara tersebut. Sebagai contoh, di Indonesia mayoritas kulit adalah kulit sapi dan diikuti dengan kulit kambing. Sementara di Amerika, terdapat banyak pilihan kulit yang bervariatif seperti dari banteng, kuda, rusa atau burung unta.

Bahkan kulit dari binatang eksotis juga sudah mulai banyak ditemukan seperti dari kanguru yang banyak digunakan untuk sarung tangan. Atau kulit dari binatang seperti buaya dan ular yang banyak dipakai untuk kebutuhan fashion. Bahkan di Thailand kita bisa menemukan kulit dari ikan pari (stingray).

Proses Penyamakan

Penyamakan adalah bagian yang paling penting dalam produksi sebuah kulit dan proses ini jugalah yang menjadi sumber utama pencemaran lingkungan. Secara sederhana, penyamakan adalah proses pengawetan bahan kulit agar menjadi materi yang bersifat stabil dan tahan lama (seperti Mummy) sehingga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan produknya lainnya yang memiliki nilai tambah. Langkah-langkahnya terdiri dari :

  1. Pre-tanning atau proses basah. Dalam bagian ini, kulit hewan yang baru saja diambil dari tubuhnya selanjutnya dibersihkan terlebih dahulu agar terpisah dari daging, lemak, bulu, otot dan bagian basah lainnya. Tergantung dari jenis kulitnya juga, terkadang akan digunakan berbagai bahan kimia seperti sodium sulfit, arsenik sulfit, kalcium hydrosulfit, dimetil amine, sodium sulphydrate untuk membantu membersihkan bagian kulit.
  2. Tanning atau penyamakan. Sebenarnya kulit bisa dibuat tanpa melewati tahap penyamakan, namun kulit yang dihasilkan akan menjadi keras ketika kering dan terkena udara, dan baru bisa digerakkan dalam keadaan basah. Tentu saja dengan karakter seperti ini, penggunaannya sangat terbatas. Sebaliknya dengan melalui proses penyamakan, kulit yang dihasilkan umumnya memiliki penampilan yang lebih indah. Dalam tahap ini, kulit yang sudah bersih akan direndam dengan cairan yang selanjutnya akan sangat menentukan karakter dari kulit yang dihasilkan. Umumnya jenis penyamakan dikategorikan berdasarkan jenis cairan yang dipakai, beberapa diantaranya yaitu :
    • Vegetable Tanned Leather menggunakan tanin, yaitu senyawa yang dapat diperoleh dari sayuran, batang kayu, getah dan berbagai sumber lainnya yang dapat ditemukan dari alam. Kulit yang dihasilkan memilik karakter keras, kaku (namun tidak sekaku kulit tanpa proses penyamakan) dan kuat. Kulit jenis ini sering digunakan untuk cover buku, atau dekorasi yang membutuhkan bahan yang kaku. Namun akhir-akhir ini banyak pengrajin kulit yang menggunakannya sebagai bahan dompet, sarung kunci, dan lain-lain. Kelemahannya adalah tidak bisa menyerap warna dengan sempurna, bahkan bisa berubah warna dibawah matahari dan akan berubah corak jika terkena air. Kulit jenis ini relatif aman terhadap lingkungan.
    • Chrome Tanned Leather menggunakan campuran senyawa kimia dan logam chromium. Ini adalah metode penyamakan yang paling populer karena cepat, murah dan menghasilkan kulit dengan karakter yang menarik. Melalui metode ini, kulit yang sudah dibersihkan selanjutnya akan direndam pada larutan chromium untuk menurunkah pH (tingkat keasaman) hingga dibawah 2.8 sampai 3.2. Penurunan pH ini penting agar senyawa kimia lainnya dapat masuk dan terserap secara sempurna hingga pada level molekul. Chrome Tanned leather memiliki karakter kulit yang lembut, fleksibel, dan penyerapan warna yang sempurna. Karakter ini yang membuat chrome tanned leather menjadi pilihan para desainer dan produsen fashion. Namun tidak seperti vegetable tanned leather yang bersifat organik, chrome tanned leather menghasilkan limbah pabrik yang sangat besar dan diperkirakan lebih dari 90% kulit di dunia menggunakan metode penyamakan chromium.
  3. Post-tanning atau finishing. Setelah proses penyamakan selesai, kulit akan dikelompokkan sesuai dengan standar mutu tertentu. Dalam tahap ini jugalah kulit dikelompokkan menjadi aniline (kulit bagian luar), nubuck, suede (kulit bagian dalam yang berbulu), dan lainnya. Selain itu, kulit akan melalui proses lanjutan seperti :
    • Dyeing yaitu pencelupan untuk menambahkan warna pada kulit
    • Shaving yaitu proses pemotongan agar tebal kulit menjadi seragam
    • Re-tanning atau penyamakan ulang untuk memodifikasi tampilan fisik
    • Setting yaitu proses untuk menghilangkan kelebihan kandungan air
    • Drying yaitu proses pengeringan dengan cara diregangkan pada sebuah kerangka agar kulit terbuka secara utuh
    • Trimming yaitu proses pemotongan pada tepi atau bagian yang kasar dan tidak diperlukan.

Setelah melewati semua tahap tersebut, kulit akan melalui tahap finishing untuk memastikan agar siap dipakai sesuai dengan standar mutu tertentu. Pada pabrik penyamakan dengan standar internasional, kulit yang memiliki cacat umumnya akan disingkirkan atau dipakai untuk tujuan lainnya, namun pada industri penyamakan skala kecil atau rumah tangga, kulit yang cacat pun masih akan dijual dengan harga yang lebih murah.

Sampai sini, kamu sudah tahu bahwa 90% kulit di dunia adalah chrome tanned leather yang proses produksinya menghasilkan limbah. Pertanyaannya, mengapa kita harus khawatir? Bukankah semua pabrik juga menghasilkan limbah?

Kulit Membunuh Lingkungan Kita

Industri penyamakan kulit sangatlah membahayakan lingkungan dan pekerja, baik di dalam lokasi produksi, maupun disekitarnya. Ancamana utama terhadap lingkungan berasal dari limbah cair dan padat yang mengandung logam kromium dan kandungan racun lainnya. Di negara maju dengan standar keamanan lingkungan yang sangat tinggi seperti Itali, limbah hasil penyamakan kulit dapat dijaga sehingga dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan. Di Uni Eropa misalnya, hasil limbah harus dibuang dalam saluran khusus untuk dapat dibersihkan terlebih dahulu sebelum sisa airnya dapat dipindahkan ke lingkungan alam. Masalahnya, mayoritas kulit dihasilkan di negara berkembang seperti China, India, Bangladesh dan Indonesia dengan standar perlindungan lingkungan yang relatif lebih rendah.

Bahkan sebenarnya pada fasilitas modern dan paling ketat sekalipun, pencemaran dari industri penyamakan kulit tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Umumnya, dalam produksi 1 ton kulit akan menghasilkan 20 sampai 80 kubik meter (1 kubik meter = 1.000 liter air)  limbah dengan konsentrasi kromium sekitar 250 mg/L. Itu adalah standar fasilitas pabrik dengan penanganan limbah yang sangat ketat. Di negara seperti Bangladesh, konsentrasi kromium pada limbah bisa mencapai 9.800 mg/L. Padahal standar EPA (Dinas Perlindungan Lingkungan di US) untuk konsentrasi kromium aman adalah 0.1 mg/L. Ini baru berbicara tentang kromium, padahal limbah juga mengandung berbagai toksin lain seperti sulfur dan pestisida yang ditambahkan untuk mencegah pertumbuhan jamur selama proses penyimpanan atau transportasi. Tidak hanya berhenti di situ, pada akhirnya 70% dari bagian binatang yang tersisa, seperti daging, lemak, rambut, otot dan bagian tubuh lainnya akan berakhir di pembuangan sampah yang tentunya akan mengundang bakteri dan pencemaran lainnya.

Di tahun 2000, UNIDO (United Nations Industrial Development Organizations) merilis laporan Regional Programme for Pollution Control in the Tanning Industry in South-East Asia yang secara spesifik ditujukan untuk industri penyamakan di Asia Tenggara. Dalam laporan tersebut tertera metode penangan kromium yang dikatakan mampu menurunkan konsentrasi pencemaran kromium hingga 94%. Berita bagus tentunya, tapi ada tapinya.

Dalam laporan tersebut juga dijelaskan kebutuhan biaya yang diperlukan untuk membangun fasilitas penanganan limbah tersebut. Berdasarkan asumsi harga di tahun 2000, pembuatan fasilitas pengolahan limbah membutuhkan biaya modal sebesar  US$ 200.000 dan biaya operasional tahunan sebesar US$ 27.000. Jika kita asumsikan inflasi selama 19 tahun terakhir mencapai 200%, maka untuk membangun fasilitas tersebut pada waktu sekarang akan membutuhkan Rp 9 miliar. Dan kecuali kamu perusahaan dengan skala besar, metode pengolahan limbah seperti ini sangatlah tidak masuk akal untuk perusahaan penyamakan kulit kecil, apalagi yang berukuran UKM. Dan tentunya kita tahu kalau pemda di banyak kota/kabupaten di Indonesia tidak ketat dalam hal perlindungan lingkungan. Bagi kebanyakan perusahaan pun, membayar denda masih jauh lebih murah dibanding harus membangun fasilitas pengolahan limbah yang baik.

Bagaimana efek sebenarnya terhadap lingkungan?

Tumbuhan memang membutuhkan kromium untuk membantu regulasi fungsi metabolisme. Namun dalam jumlah besar, kromium dalam limbah akan mencemari sungai dan tanaman disekitarnya yang selanjutnya akan berimbas pada gangguan rantai makanan. Ikan yang terpapar kromium akan mengalami gangguan pada saluran pernafasannya dan dapat melebar pada infertilitas, infeksi, atau cacat pada kelahiran. Selain menganggu ekosistem, ikan yang beracun seperti ini juga dapat membahayakan manusia ketika dikonsumsi. Karena kromium adalah logam, ini bukanlah racun yang dapat dihilangkan hanya dengan “masak sampai matang”. Selain ikan, binatang lainnya yang mengkonsumsi air yang sudah terpapar limbah juga akan terkena dampaknya. Intinya, limbah kromium yang dihasilkan oleh industri penyamakan kulit sangatlah berbahaya untuk ekosistem lingkungan.

Greenpeace memasang plang penanda air limbah pabrik di Kabupaten Bandung

Di negara maju, industri agrikultur dan perkebunan tidak diperbolehkan untuk beroperasi di sekitar industri penyamakan karena potensi pencemaran yang besar. Namun sekali lagi, di negara berkembang, apalagi di kota kecil, aturan seperti ini sering dilewatkan dimana peternak ayam atau sapi hidup berdampingan dengan penyamak kulit. Jadi bukan hanya masyarakat di dalam lingkungan tersebut saja yang berpotensi merasakan akibatnya, namun konsekuensinya dapat melebar ke skala yang lebih luas.

Kulit Membunuh Pembuatnya

Pada perusahaan dengan skala kecil atau menengah, pekerja tidak memperoleh perlindungan yang cukup.

Bekerja di penyamakan kulit itu penuh dengan mara bahaya, seringkali karena minimnya perhatian terhadap keamanan dan standar operasional prosedur yang baik. Mulai dari hal yang sepele seperti terpeleset hingga eksposur terhadap berbagai bahan produksi seperti alkohol, asam, gas, disinfektan; kecelakaan di mesin potong, tertimpa tumpukan batu dan berbagai kecelakaan yang menakutkan lainnya.

Namun dari semuanya, yang paling membahayakan adalah yang berkaitan dengan penanganan sisa limbah pabrik beracun. Bagi manusia, kromium dapat menyebabkan berbagai macam penyakit bergantung dari cara penyerapannya ke dalam tubuh.

Ketika dihirup, kromium menyebabkan iritasi atau peradangan pada paru-paru, menganggu saluran pernapasan sekaligus bersifat karsinogenik yang dapat memicu kanker paru-paru, hidung dan sinus.  Berdasarkan penelitian, kromium dihubungkan dengan peningkatan risiko atas asma, bronkitis, pneumonia, polip pada saluran pernafasan bagian atas, faringitis dan pembesaran pada noda limfa. Umumnya, kromium masuk ke tubuh pekerja melalui pernapasan karena sisa-sisa partikel debu kulit pada saat proses penipisan, pengeringan dan finishing.

Selain itu, kromium juga dapat masuk ke tubuh melalui kontak dengan kulit. Di Indonesia, pekerja umumnya tidak memperoleh perlindungan yang cukup sehingga limbah kromium seringkali dapat bersentuhan dengan kulit yang dapat menyebabkan kulit kering, pecah-pecah, dermatitis, hingga kelainan lainnya.

Penyakit kulit akibat sering berendam di cairan kimia.

Bukan hanya kromium saja, kulit mentah juga merupakan tempat yang subur untuk pertumbuhan bakteri antraks. Industri penyamakan skala internasional umumnya merendam kulit mentah dengan disinfektan (pentachlorophenol) untuk meminimalisir risiko tersebarnya bakteri, namun pada pabrikan dengan skala kecil atau tradisional, hal ini seringkali diremehkan.

Juga Berisiko untuk Penggunanya

Serius?

Berdasarkan penelitian dari badan riset di Jerman, barang yang terbuat dari kulit umumnya juga masih mengandung kromium dalam tingkat yang tinggi. Hexavalent Chromium adalah alergen yang dikaitkan dengan permasalah kulit seperti eczema atau eksim. Hal ini khususnya berlaku untuk barang yang kerap kali bersentuhan dengan kulit secara langsung seperti sarung tangan atau sarung handphone. Jika kamu memiliki beberapa barang tersebut, pastikan untuk cuci tangan sesering mungkin, terutama sebelum makan. Untuk sepatu kulit, selama kamu menggunakan kaos kaki, seharusnya tidak ada masalah. Namun sebaiknya kamu menghindari menggunakan sandal kulit (oke, menggunakan sandal bersama kaos kaki sangatlah terlihat buruk).

Bagi pengguna akhir, kulit dapat memicu alergi, namun secara umum tidak akan membahayakan. Tetapi hal ini cukup mengkhawatirkan karena rupanya racun yang digunakan masih dapat tersisa meski telah melewati berbagai pemrosesan. Bahkan jika kita melihat pada kasus Regis Tanning Co Inc., yaitu perusahaan penyamakan asal Amerika Serikat yang sudah beroperasi sejak tahun 1950 sampai 1972. Dua puluh tahun semenjak mereka berhenti beroperasi, air sumur di daerah tersebut masih memiliki kandungan arsenik, kromium, dan timbal yang tinggi akibat penimbunan limbah. Jadi jangan berharap racun dalam barang kulitmu dapat hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.

Jadi bagaimana sebaiknya?

Permasalahan utama dari produk kulit sebenarnya sudah jelas, yaitu kurangnya perhatian produsen kulit terhadap keselamatan pekerja, pelestarian lingkungan dan pengelolaan limbah. Memproduksi kulit yang bersih dan ber-etika itu mungkin dan bisa saja dilakukan. Beberapa penelitian juga sudah menemukan bahan kimia alternatif pengganti kromium, seperti titanium yang saat ini sedang dikembangkan oleh peneliti di Spanyol. Namun semua alternatif tersebut memiliki kekurangan, yaitu biaya. Kromium adalah standar industri yang sudah teruji, efisien, bisa diandalkan, dan rendah biaya. Bagi kebanyakan industri penyamak kulit, insentif memaksimalkan keuntungan itu jauh lebih besar dibanding menjaga lingkungan. Apalagi dengan aturan yang relatif tidak ketat di tingkat daerah, hal ini sulit untuk berubah,

Sebagai konsumen, kita tidak memiliki banyak pilihan. Memang kita bisa berusaha dan menyuarakan pendapat untuk standar lingkungan yang lebih baik. Namun itu adalah perjalanan panjang tanpa hasil yang pasti.

Untuk sekarang kamu bisa memiliki beberapa pilihan :

  1. Menggunakan produk yang bebas dari kulit. Beberapa brand seperti CDE, Stella McCartney, bebe, Uniqlo memiliki komitmen untuk menghindari menggunakan produk kulit. Sebaliknya mereka memilih menggunakan kulit vegan (bukan terbuat dari binatang) atau bahan sintetik lainnya.
  2. Membeli produk kulit dari sumber yang ramah lingkungan. Produk yang terbuat dari vegetable tanned leather relatif ramah lingkungan meski umumnya jarang ditemui dan harganya relatif lebih mahal.
  3. Menggunakan produk kulit pre-loved (2nd hand). Jika kamu sudah terlanjut memiliki produk kulit, ini bukanlah alasan untuk membuangnya. Dampak negatif yang diberikan sudah terlanjur terjadi, membuangnya tidak akan mengembalikan lingkungan ke kondisi yang lebih baik. Sebaliknya pula, jika kamu menginginkan produk kulit, belilah produk pre-loved dari orang lain. Dengan begitu, kamu tidak secara langsung mendukung produsen produk kulit dan kamu juga membantu mengurangi sampah dari produk yang tidak terpakai.

Sebenarnya yang perlu diperhatikan, produk kulit juga bergantung dari kepedulianmu terhadap binatang. Investigasi dari PETA menemukan bahwa mayoritas industri penyamakan memperlakukan binatang secara tidak etikal. Beberapa penyamakan bahkan diketahui menguliti sapi hidup-hidup yang jelas-jelas berlawanan dengan standar metode penyembelihan hewan kurban. Jika kamu vegan atau peduli terhadap binatang, maka tentunya hanya ada satu pilihan, yaitu sepenuhnya menjauhi produk kulit. Namun kami sadar bahwa ini adalah masalah pilihan gaya hidup yang berbeda untuk setiap orang. Tetapi setidaknya kita semua bisa sepakat bahwa kulit tidak ramah lingkungan.

Ini memang terdengar seperti langkah yang kecil, bahkan tak signifikan. Namun seperti yang dikatakan oleh Plato, good actions give strength to ourselves and inspire good actions in others. Langkah kecil yang kamu ambil ini bisa jadi menjadi inspirasi bagi orang disekitarmu untuk ikut ambil bagian, membangun sebuah rantai reaksi yang lebih besar.

Jangan lupa bagikan artikel ini untuk menginspirasi temanmu berbuat hal positif bagi lingkungan dan sosial.

Dan jangan lupa komen bila kamu punya ide lain yang positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *