Bagaimana Makananmu dapat Menghancurkan Bumi?

Coba tebak, 2 hal apa yang berkontribusi terhadap lebih dari setengah masalah krisis iklim di bumi?

Hint : yang satu adalah produksi energi, kira-kira satunya lagi apa?

Transportasi? bukan. Polusi industri? bukan. Nuklir? Tambah ga nyambung.

Fixed nyerah? oke, jawabannya agrikultur.

Yup, benar sekali. Industri agrikultur, yaitu industri yang menyediakan daging, unggas dan bahan makanan favorit kita ternyata adalah penyumbang 21% dari gas rumah kaca di bumi. Buat gambaran aja nih, itu artinya gas rumah kaca yang dihasilkan dari semua mobil, kereta api, dan pesawat di seluruh muka bumi, digabung jadi satu “cuma” mencapai 14%, alias masih tidak sebesar agrikultur dampaknya. 😧

Dan bad newsnya, angka tersebut masih belum include faktor lainnya, hanya sampai di daging dan bahan makanan mentah aja. Kalau kita hitung faktor seperti packaging (yup plastik, dan berbagai kemasan makanan yang cantik), transportasi (pesen makanan tinggal Gojek yakan?), dan sampah makanan (mumpung diskon beli dulu, kalau ga habis ya tinggal dibuang), efeknya bisa sampai 30% dari total emisi gas rumah kaca lo. Jadi beneran, kalau kita mau benar-benar peduli sama lingkungan dan mencegaha krisis iklim, bisa kita mulai dari mengatur apa yang akan kita makan.

Sumber : Environment Reports

3 besar sumber gas rumah kaca dunia. Credit: Environment Report

Tapi sampai disini, bingung ga? Emang apa hubungannya binatang dengan gas rumah kaca. Sapi dan ayam kan tidak mengeluarkan asap. Mereka kan “alami”. Trus dari mana sumber polusinya?

Nah ini nih yang mau kita bahas dalam artikel kali ini. Yuk, kita bahas satu persatu.

Agrikultur dan deforestasi

Di 2019, terjadi 3 kasus kebakaran hutan yang sangat besar, yaitu di Brazil, Indonesia dan Australia. Dan dari ketiganya, kita tahu ada deforestasi yang sangat besar. Penyebab deforestasi di Brazil adalah industri daging (mayoritas ayam). Di Indonesia, perusahaan minyak sawit dianggap bertanggung jawab terhadap deforestasi di Kalimantan. Dan deforestasi di Australia juga didorong oleh industri agrikultur.

Menurut penelitian, 75% dari deforestasi global disebabkan oleh agrikultur. Mudah bagi kita untuk menyalahkan perusahaan-perusahaan yang memang secara langsung bertanggung jawab terhadap pembebasan lahan hutan. Namun, nyatanya ini semua terjadi karena permintaan produk agrikultur yang semakin tinggi dari tahun ke tahun. Beef patty dari Big Mac yang lezat itu tidak datang tiba-tiba dari langit. Untuk menternakkan sapi hingga siap diambil dagingnya membutuhkan lahan yang besar dan inilah yang pada akhirnya mendorong perusahaan untuk memperluas lahan kerja mereka.

Deforestasi sendiri, selain menghancurkan ekosistem dan keberagaman flora/fauna, juga menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam 2 sisi, yaitu :

  • Mengurangi jumlah pepohonan : Kita tahu bahwa tumbuhan dapat menangkap karbon dioksida (termasuk gas rumah kaca) dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis. Akibat deforestasi, semakin sedikit oksigen yang dihasilkan dan semakin banyak gas karbon yang dibiarkan.
  • Lahan digunakan untuk agrikultur : Nah ternyata pembebasan lahan tersebut ditujukan untuk agrikultur yang sendirinya menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca.

Bila tidak ada perubahan. Atau bila laju pertumbuhan manusia berlanjut seperti sekarang, maka tahun 2050 diprediksi emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh industri agrikultur akan mencapai 30% (naik dari 21% dari sekarang).

Kita kerap kali berbicara tentang gas rumah kaca. Tapi apa yang sebenarnya dimaksud gas rumah kaca?

Agrikultur dan gas rumah kaca

Sebelumnya kalian perlu tahu dulu apa yang dimaksud dengan rumah kaca. Rumah kaca (inggris : green house) adalah rumah yang terbuat dari kaca yang digunakan untuk proses budidaya tanaman. Dimana radiasi elektromagnetik dari sinar matahari dapat diubah menjadi panas. Di Indonesia, hal ini tidak penting, tapi di negara bersalju, rumah kaca sangat penting untuk bertani ketika berada di musim dingin. (Kalau kamu pernah main harvest moon, di game ini, kamu hanya dapat bercocok tanam di Winter hanya jika kamu sudah membangun green house).

Contoh rumah kaca. Kredit: 99.c0

So, gas rumah kaca sendiri adalah gas yang dapat menyebabkan efek rumah kaca, namun kali ini skalanya adalah seluruh bumi kita. Berkat gas rumah kaca, bumi tidak membeku karena panas yang dihasilkan dapat ditahan dalam atmosfir kita. Masalahnya kondisi kita sekarang, gas rumah kaca yang ada sudah terlalu banyak.

Gas rumah kaca sendiri memiliki beberapa variasi. Deforestasi sendiri umumnya berkontribusi terhadap peningkatan karbon dioksida (CO2) karena berkurangnya jumlah pohon yang dapat melakukan fotosintensis. Ternak dan sawah menghasilkan gas metana (CH4), sementara penggunaan pupuk berbasis nitrogen dan pembakaran menghasilan gas dinitrogen oksida (N2O). Masing-masing dari jenis gas tersebut memiliki efek yang berbeda terhadap atmosfir kita.

Gas metana contohnya memiliki efek 26 kali lebih kuat dibanding gas karbon dioksida. Pada peternakan, gas metana muncul akibat proses fermentasi dalam proses pencernaan hewan ternak, yang akan dikeluarkan ketika hewan bersendawa atau kentut. Selain itu, kotoran hewan yang biasa sering digunakan untuk pupuk juga dapat menghasilkan gas metana.

Bagaimana dengan N2O?

Menurut penelitian, gas N2O memiliki efek 300 kali lebih kuat dalam menahan panas di atmosfir dibanding gas karbon dioksida (ya, bukan salah tulis, tapi beneran tiga ratus kali lipat). Gas ini dihasilkan akibat aktivitas mikroba di dalam tanah ketika bertemu dengan pupuk yang berbasis nitrogen, seperti Urea.

Nah dari sini kita sudah cukup paham bagaimana agrikultur berkontribusi dalam menghasilkan gas rumah kaca. Beberapa dari kalian mungkin akan bertanya :

“Peternakan kan menghasilkan gas metana dan itu buruk buat lingkungan. Tapi gas N20 dari pupuk tanaman kan lebih buruk, apa artinya itu lebih baik bagi saya untuk lebih banyak makan daging dan mengurangi konsumsi buah, kacang-kacangan dan bahan makanan tumbuhan lainnya?”

Well, sayangnya tidak seindah itu.

Melihat lebih dalam lagi : Peternakan

Di Indonesia, peternak sapi biasanya menunggu hingga sapi berusia 2–3 tahun dengan bobot rata-rata sekitar 200kg sebelum dipotong untuk daging. Selama 2 tahun tersebut, sapi harus diberi makan yang cukup, sekitar 10% dari berat badannya. Padahal, tidak semua bagian dari 200kg sapi tersebut yang dapat dimakan, beberapa bagian seperti tulang dan berbagai jeroan (innards) seringkali berakhir terbuang.

Berdasarkan penelitian yang dirilis FAO (Food and Agriculture Organizations), 45% gas rumah kaca dari industri peternakan berasal dari pengadaan pangan ternak tersebut. Proses pembuangan gas (sendawa dan kentut) hasil pencernaan berkontribusi atas 39% gas rumah kaca. Sementara penyimpanan pupuk hasil kotoran ternak bertanggung jawab atas 10% gas rumah kaca, dan sisanya adalah gas rumah kaca untuk proses transportasi dan pemrosesan.

Melihat lebih detil setiap bagian aktivitas penghasil gas rumah kaca dalam agrikultur. Kredit : FAO

Hal ini tentunya sudah tidak mengejutkan lagi. Bila kita ingin mengkonsumsi 1 kg kacang kedelai, maka yang kita perlukan adalah menanam 1 kg kacang kedelai. Namun ketika kita ingin makan 1 kg daging sapi, maka sumber daya yang diperlukan jauh lebih besar lagi. Menurut National Geographics, daging sapi menyebabkan emisi 20 kali lebih tinggi dibanding kacang-kacangan untuk setiap gramnya.

Apakah ini berlaku juga untuk jenis daging hewani lainnya? Kambing dan domba memiliki emisi gas karbon yang mirip dengan sapi. Dihitung dengan standar CO2 (sumber: DEFRA UK), 1kg daging sapi menghasilkan 34.2kg CO2. Namun hewan seperti ayam dan babi memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih rendah, masing-masing yaitu 4.5kg dan 6.4kg CO2 untuk setiap 1 kg dagingnya.

So, what’s next?

Bila tidak ada perubahan, kebutuhan pangan manusia akan bertambah sekitar 60%-100% pada tahun 2050. Bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan tersebut?

Berita buruknya, dengan membebaskan lebih banyak lahan (baca: deforestasi). Hal ini semakin diperparah dengan kebijakan beberapa pemimpin dunia yang tidak pro-lingkungan seperti Presiden Trump yang memutuskan untuk membawa Amerika Serikat mundur dari Paris Climate Agreement.

Beberapa inovasi seperti daging hasil budidaya (lab grown meat) seperti Beyond Meat memang menarik untuk diawasi, namun tentu jumlahnya tidak akan mencukupi kebutuhan 7.7 miliar manusia.

Apa yang bisa kita lakukan?

Kuncinya ada 2 poin, yaitu :

  1. Mengubah pola makan
  2. Mengurangi sisa makanan

Yang pertama adalah mengubah pola makan. Kita sekarang tahu kalau daging sapi adalah bahan makanan yang menghasilkan gas rumah kaca terbanyak dibandingkan bahan makanan lainnya. Dengan mengurangi daging, maka kita sudah ikut berkontribusi dalam mengurangi emisi gas karbon. Penggantinya? Tidak harus vegan, bisa juga dengan ayam atau ikan-ikanan. Jika kamu memang penggemar berat daging sapi dan tidak bisa hidup tanpanya, maka setidaknya pertimbangkan untuk mengurangi porsi daging sapimu untuk setiap minggunya.

Mengurangi sisa makanan adalah poin yang tidak kalah penting. Seberapa sering kita membeli makanan dalam jumlah lebih dari cukup (entah karena alasan apa), tidak habis dimakan dan akhirnya berakhir di pembuangan sampah? Ada lebih dari 820 juta ton makanan yang terbuang percuma setiap tahunnya. Jika kamu sedari awal tidak membelinya, maka makanan tersebut tidak akan diproduksi.

Keduanya memang terdengar idealis, namun apakah kita seorang diri dapat membuat perubahan?

Tidak. Namun itu bukanlah alasan bagi kita untuk tidak berubah. Jangan berhenti sampai di dirimu saja. Ajak teman-temanmu untuk ikut berubah. Bagikan artikel ini di social media, siapa tahu ada beberapa followermu yang akan tergerak hatinya untuk ikut berubah. Dimulai dari dirimu, perubahan kecil bisa menjadi perubahan besar. Yuk #berubahLebihBaik

pesan sponsor :

Artikel ini disponsori oleh CDE, yaitu brand fashion Indonesia yang memiliki misi untuk mendorong gaya hidup masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan. Seluruh produk CDE dibuat dengan bahan yang ramah lingkungan dan tidak menggunakan produk dari bahan binatang. Selain itu, untuk setiap penjualan sepatu/tas/kaos, kami berkomitmen untuk menanam 1 pohon di daerah yang membutuhkan. Bantu kami membawa perubahan yang lebih baik dong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *