Masalah Paling Bodoh : Sampah Makanan

 

Faktanya sekitar 33%-50% makanan yang diproduksi di seluruh dunia berakhir di pembuangan sampah.

Itu 1.3 miliar ton makanan yang terbuang percuma setiap tahunnya, atau kalau dihitung dalam dolar, nilainya bisa mencapai $1 triliun.

Sementara itu, tahukah kamu kalau ada 820 juta orang di dunia ini yang tiap hari harus bertahan hidup sembari menahan lapar?

Bukankah ini terlihat sangat bodoh?

Bagaimana bisa di satu sisi kita memiliki masalah terlalu banyak makanan dan di sisi lain, ada kelompok manusia yang membutuhkan makanan hanya untuk bertahan hidup?

Dan apakah itu masalah buat kita?

Secara moral…

Iya itu masalah, bayangin 1 dari 9 orang di dunia tidur kelaparan sementara kalian dan saya bisa dengan mudahnya pesan pizza Domino buy 1 get 1, dan kalau enggak habis, tinggal dibuang aja tanpa berpikir banyak (atau favoritnya orang Indo, ditaruh di Kulkas, tapi 2 minggu kemudian baru inget, dan udah basi ternyata).

Ini tentu tidak benar. Apalagi di sistem ekonomi global seperti ini, semuanya serba berhubungan. Permintaan jagung yang tinggi di Jakarta juga akan menyebabkan harga jagung di daerah pelosok di Sulawesi ikutan naik harganya.

Tapi ini bukan hanya masalah moral aja, tapi juga…

Tentang lingkungan

Sampah makanan merupakan bencana bagi bumi kita. Untuk memproduksi seluruh makanan tersebut, mulai dari daging sapi, sampai biji kopi, dan setiap butir beras membutuhkan lahan yang tidak kecil. Para pengusaha dan ekonom menjustifikasi deforestasi dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Dari deforestasi tersebut, entah berapa spesies flora dan fauna yang punah, suku asli pedalaman yang terusir dari rumahnya, tanah yang terdegradasi untuk masa depan — dan ini semuanya untuk apa?

Untuk sebuah tumpukan sampah?

Bukankah ini sangat tragis?

Dan tidak cukup sampai disitu ceritanya.

Makanan, baik yang tersisa maupun yang tidak pernah dimakanpun sekalipun akan menjadi sampah dan berakhir di tempat penimbunan sampah (landfill). Sampah organik seperti buah yang busuk atau sisa makanan yang sudah dipisahkan dengan baik akan dapat terurai dengan sendirinya. Sementara itu sampah anorganik seperti botol plastik atau packaging aluminium (seperti sarden, dll) membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai dalam tanah sehingga kerap kali menciptakan masalah baru, yaitu jumlah sampah yang semakin bertambah. Tapi apakah sampah organik benar-benar bebas dari masalah?

Sampah organik seperti inipun dapat menimbulkan dampak negatif ke lingkungan. Kredit : Taz (Flickr)

Sayangnya tidak.

Sampah organik ketika ditimbun dalam tanah (tanpa terpapar oksigen/anaerobik) akan terurai dengan sendirinya berkat bantuan mikroorganisme yang berada di dalam tanah. Namun mikroorganisme yang sama ini juga menghasilkan gas metana dalam menjalankan aktivitasnya untuk mengurai sampah-sampah yang ada. Gas metana sendiri tergolong sebagai gas rumah kaca yang memiliki efek 23 kali lebih kuat dibanding gas karbon dioksida. Definitely not a good things.

So, sekarang kita tahu bahwa sampah makanan itu sangat buruk untuk lingkungan, baik dari segi produksinya, ataupun dari segi pembuangan sisa-sisanya. Namun apakah hal seperti ini relevan untuk kita yang tinggal di Indonesia? Akhir-akhir ini kan sempat heboh berita negara barat yang mengirim sampah ke Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Jadi sebenernya kita warga Indonesia bukan bagian dari masalah kan? Justru kita korbannya kan?

Indonesia?

Kita perlu malu. Ya betul malu.

Menurut data Global Health Organization, Indonesia memiliki masalah kelaparan yang tergolong serius. Well, memang tidak seburuk Laos atau Kamboja. Tapi pliss, ekonomi negara kita kan jauh lebih mumpuni dibanding mereka. Seharusnya perbandingan negara kita adalah dengan Vietnam, Thailand dan Malaysia, dan kenyataan menunjukkan jumlah kasus kelaparan di Indonesia jauh jauh lebih buruk. Well, itu untuk bad newsnya.

data kelaparan di ASEAN

Indonesia adalah salah satu negara di ASEAN dengan masalah kelaparan tertinggi. Kredit : Global Health Organization 2018, diambil dari The Asean Post

Untuk worse newsnya apa? (worse? bukan good news?)

Penelitian yang dirilis oleh The Economist Intelligence Unit yang berjudul Fixing Food menempatkan Indonesia dalam peringkat kedua dari belakang dalam hal sampah makanan (nomor 1 dari belakang Arab Saudi, sementara yang dari depan berturut-turut adalah Prancis, Australia dan Afrika Selatan). Rata-rata orang Indonesia menyebabkan 300kg sampah makanan setiap tahunnya.

Gimana ga kaget? Ternyata kita berada di pusat utama dari masalah terbodoh ini.😰😰

Ini bukan waktunya untuk main tunjuk dan berusaha menyalahkan orang lain lagi. Tak bisa dipungkiri gaya hidup kita ikut berkontribusi dalam membuat masalah ini.

Apa yang bisa kita lakukan?

3R, yaitu Reduce-Reuse-Recycle.

Reduce berarti mengurangi apa yang akan berakhir menjadi sampah (atau calon sampah). Beberapa ide untuk mengurangi sampah yaitu :

  • Belanja secukupnya saja. Jangan karena ada diskon dari e-money atau ojol menggodamu untuk membeli makanan/minuman lebih dari yang sebenarnya kamu butuhkan (buat tambahan motivasi : inget-inget berat badanmu).
  • Kalau kamu masak sendiri, juga jangan masak berlebihan. Seringkali kita berpikir kalau sudah repot masaknya, sekalian buat yang banyak. Tapi akhirnya jadi sisa, padahal kalau disimpan buat besoknya juga udah males.
  • Kalau kamu makan diluar dan ada sisa, usahakan dibawa pulang (bawa tempat sendiri ya) agar bisa dimakan atau diberikan untuk orang rumah.
  • Perhatikan tanggal kadaluarsa, prioritaskan untuk mengonsumsi produk yang sudah mendekati tanggal kadaluarsa.
  • Usahakan beli produk lokal, misalnya penjual sayur dekat rumahmu dibandingkan di supermarket. Supermarket besar biasanya memiliki program yang lebih sistematis untuk menangani masalah sisa bahan makanan yang tidak terjual sementara pedagang kecil umumnya hanya bisa membuang sisa produk bila tidak terjual.

Mengurangi adalah langkah pertama, langkah kedua adalah Reuse, yaitu menggunakan sesuatu yang bisa digunakan kembali. Sebagai contoh, kemasan makanan atau minuman yang terbuat dari plastik biasanya relatif tahan lama dan bisa digunakan kembali. Kemasan plastik yang tahan microwave bisa digunakan untuk menyimpan makanan lain. Gelas plastik tebal dari Starbucks juga bisa digunakan kembali sebagai pot tanaman mini.

Dan yang terakhir adalah recycle, yaitu mendaur ulang sampah makananmu untuk bisa dibuat menjadi hal baru. Cara yang paling mudah adalah untuk mengubah sampah makanan menjadi kompos atau pupuk yang dapat langsung kamu gunakan untuk pekarangan di rumahmu.

Ini semua sebenarnya baru permulaan saja. Ada lebih banyak yang dapat kamu lakukan bergantung dari kreatifitasmu. Menangani sampah adalah hal kecil yang bisa kamu mulai dari hari ini. Jangan lupa ajak temanmu untuk mengikuti langkah serupa. Share apa yang telah kamu lakukan untuk mengurangi sampah makanan di Instagram, Twitter atau Tiktok menggunakan tagar #BerubahLebihBaik . Ingat, sampah adalah masalah kita bersama. Semakin banyak orang yang ikut serta mengurangi sampah, semakin besar dan terasa pula manfaatnya buat kita sendiri.

Pesan sponsor

Di CDE sendiri kami menganggap serius masalah sampah. Setiap pengrajin sepatu CDE berkomitmen untuk menjalankan praktik produksi yang lebih ramah lingkungan. Sampah padat, seperti sisa potongan vegan leather dipisahkan secara rapi agar dapat diberikan kepada warga sekitar untuk membuat aksesoris atau digunakan untuk kebutuhan lainnya. Kami juga menggunakan lem organik seperti lateks sehingga limbah cair dapat diminimalkan. Oleh karena itu, kamu tidak perlu khawatir sepatu yang kamu pakai meninggalkan timbunan sampah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *